KABARWAKATOBI.COM, WANGI-WANGI-Balai Taman Nasional (BTN) Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) baru saja menggelar rangkaian kegiatan penyuluhan, aksi bersih pantai dan pelepasliaran tukik (anak penyu) dalam rangka memperingati “Hari Lahan Basah Sedunia Tahun 2026” di pulau Tomia pada Senin, 2 Februari 2026.
Acara itu dirangkaikan dengan penyuluhan edukasi ekosistem mangrove yang dilaksanakan di Sekretariat Kelompok Konservasi Keme Pesisir, Kelurahan Onemay. Diikuti oleh 40 orang peserta yang terdiri dari anggota Kelompok Konservasi Keme Pesisir, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muslim Indonesia (UMI), Perwakilan ASEAN ENMAPS dan Perwakilan Wakatobi Soea.
Kegiatan sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya peran mangrove dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Selain itu, BTN Wakatobi juga melaksanakan kegiatan sosialisasi bina cinta alam kepada siswa SD Negeri 2 Timu di Desa Timu. Kegiatan penyampaian materi pengenalan ekosistem mangrove dihadiri oleh 31 siswa/siswi kelas V dan VI, perwakilan ASEAN ENMAPS dan Mahasiswa UMI. Kegiatan sosialisasi menyampaikan materi pengenalan ekosistem mangrove, mulai dari jenis dan bagian tumbuhan, manfaat mangrove bagi lingkungan pesisir, hingga berbagai ancaman yang dapat mengganggu kelestariannya.
Kegiatan itu bertujuan menumbuhkan pengetahuan dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini, menerapkan nilai cinta alam dalam kehidupan sehari-hari dan turut berperan menjaga kelestarian mangrove di lingkungan sekitar.
Di samping itu, juga dilakukan aksi bersih pantai dan pelepasliaran tukik penyu di Pantai Soha, Desa Kollo Soha, dihadiri oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III BTN Wakatobi, Pemerintah Kecamatan Tomia, Kepala Desa Kollo Soha, Yayasan Konservasi Alam (YKAN), perwakilan ASEAN ENMAPS, perwakilan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Tomia BTN Wakatobi, Ketua Bank Sampah Monippatu beserta anggota, perwakilan Kelompok Pecinta Alam Toburi, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Muslim Indonesia dan Universitas Sebelas Maret, serta masyarakat setempat.
Aksi bersih pantai dilakukan di sepanjang garis pesisir Pantai Soha sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan pantai dan pengurangan sampah laut. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelepasliaran tukik.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, BTN Wakatobi Union mengatakan, sebanyak 159 ekor tukik jenis penyu hijau (Chelonia mydas) berumur 2 (dua) bulan dilepasliarkan ke alam. Telur penyu yang direlokasi merupakan telur yang berpotensi rusak baik diakibatkan faktor alam maupun faktor lainnya.
“Tukik tersebut berasal dari telur penyu yang direlokasi dari pulau-pulau tak berpenghuni di kawasan BTN Wakatobi karena berisiko rusak akibat faktor alam maupun gangguan lainnya,” ujarnya di Wangiwangi Kamis, 5 Februari 2026.
Union mengungkapkan, pelepasliaran tukik berkontribusi dalam upaya pemulihan populasi penyu hijau serta meningkatkan peluang hidup tukik di alam.

“Melalui momentum Hari Lahan Basah Sedunia, aksi bersih pantai dan pelepasliaran tukik penyu menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat. Bahwa perlindungan penyu, tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kesehatan ekosistem, lahan basah pesisir sebagai habitat alaminya,” ungkapnya.
Lebih lanjut Union menjelaskan, Penyu tidak hanya hidup di ekosistem tersebut, tetapi juga berperan menjaga keseimbangannya, seperti membantu kesehatan padang lamun dan menyumbang nutrisi bagi vegetasi pantai yang berfungsi menahan abrasi.
“Pelepasan tukik memiliki makna simbolis karena penyu sangat bergantung pada lahan basah pesisir, yang mencakup pantai berpasir sebagai lokasi bertelur, hutan mangrove sebagai tempat perlindungan biota laut muda, padang lamun sebagai sumber pakan utama penyu hijau, serta terumbu karang sebagai habitat pakan penyu lainnya,” tutupnya.

















