KABARWAKATOBI.COM, WANGI-WANGI-Pemerintah Kabupaten (Pemkan) Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Kesehatan berkolaborasi dengan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) dan Allianz Peduli resmi memulai Program Program Edukasi dan Resiliensi melalui Intervensi Kesehatan Antargenerasi (PERISAI) di wilayah Kecamatan Wangiwangi.
Kick Off Program PERISAI sekaligus Sosialisasi Ibu Hamil berlangsung di Villa Nadila, Kecamatan Wangi-Wangi, Minggu (13/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) unsur pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, tenaga kesehatan, kader posyandu, lintas sektor, serta ibu hamil dari empat posyandu yang menjadi wilayah sasaran program.
Sekretaris Daerah melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia Sekretariat Daerah Kabupaten Wakatobi Harusa menyampaikan, kesehatan ibu dan anak serta perbaikan gizi merupakan bagian penting dari pembangunan kesehatan daerah.
Menurutnya, upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan prevalensi stunting membutuhkan penguatan pelayanan promotif dan preventif, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, deteksi dini, serta sistem rujukan yang tepat dan cepat.
“Target kita bukan sekadar memperbaiki angka dalam laporan, tetapi memastikan bahwa setiap ibu mendapatkan pelayanan yang berkualitas, setiap bayi memiliki kesempatan untuk lahir dan tumbuh sehat, dan setiap anak Wakatobi dapat tumbuh serta berkembang secara optimal,” katanya.
Ia menyebutkan, pada tahin 2024 tercatat satu kasus kematian ibu dan empat kasus kematian bayi.
Sementara berdasarkan pencatatan e-PPBGM Kabupaten Wakatobi tahun 2024, prevalensi stunting tercatat 10,7 persen, dengan 724 balita stunting dari 6.745 balita yang diukur dalam kegiatan intervensi serentak pencegahan stunting.
“Pencegahan stunting tidak dapat dilakukan hanya ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan. Intervensi perlu dilakukan secara berkelanjutan sejak masa remaja dan calon pengantin, kehamilan, persalinan, masa nifas, pemberian ASI, makanan pendamping ASI, hingga pemantauan tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Harusa menyebutkan, Program PERISAI akan dilaksanakan selama satu tahun hingga September 2027 di wilayah kerja Puskesmas Wangiwangi.
“Empat posyandu menjadi sasaran awal program, yakni Posyandu Bira, Posyandu Woua, Posyandu Nianse, dan Posyandu Oguu,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi, Muliadin Anis mengatakan, kerja sama tersebut berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi serta perbaikan gizi masyarakat.
“Fokus Memorandum of Understanding (MoU) ini untuk peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi, serta perbaikan gizi masyarakat,” terangnya.
Ia menjelaskan, program juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas bidan, khususnya bidan desa dan bidan yang bertugas di wilayah Puskesmas Wangiwangi.
Sementara itu, dr. Michael yang mewakili yayasa doctorSHARE menjelaskan, program akan mencakup sejumlah intervensi, di antaranya pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan balita, kelas ibu hamil, pelaksanaan imunisasi bulanan, serta peningkatan kapasitas kader dan tenaga kesehatan, khususnya bidan. Kegiatan tersebut akan diintegrasikan dengan pelayanan rutin yang telah berjalan di puskesmas dan posyandu.
“Jika program ini berjalan baik dengan tetap menjaga kualitas pelayanan, tentu ini akan menjadi best practice yang nantinya bisa direplikasi oleh dinas-dinas terkait di Kabupaten Wakatobi,” paparnya.
Elmi Selaku Chief Executive Officer (CEO) Allianz Peduli yang hadir secara daring mengatakan, Program PERISAI merupakan bentuk kolaborasi untuk memastikan ibu dan anak mendapatkan dukungan yang baik sejak masa kehamilan.
Menurutnya, kesehatan anak berawal dari kesehatan ibu. Karena itu, pendampingan terhadap ibu hamil tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi membutuhkan dukungan suami, keluarga, kader, bidan, tenaga kesehatan, pemerintah dan masyarakat.
“Allianz Peduli berharap, para ibu memperoleh pengetahuan, dukungan dan akses yang lebih baik untuk menjaga kesehatan diri dan anak. Program juga diharapkan memperkuat kapasitas kader posyandu dan tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
“Kami berharap Program PERISAI tidak berhenti sebagai kegiatan selama masa kerja sama, tetapi mampu meninggalkan pengetahuan, kapasitas, praktik baik dan sistem kerja yang dapat dilanjutkan setelah program berakhir,” Jika pelaksanaannya terbukti efektif, praktik baik tersebut diharapkan dapat direplikasi pada posyandu lainnya di Kabupaten Wakatobi,” pintanya.
















