KABARWAKATOBI.COM, WANGI-WANGI-Rombongan World Bank (Bank Dunia) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia menyambangi Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) menggunakan pesawat khusus Surveillance PSDKP ATR MPA 42-320 PK-YRE.

Kehadiran World Bank ke Wakatobi itu dihadiri langsung oleh Satu Kahkonen yang merupakan World Bank Country Director untuk Indonesia dan Timor Leste, Bolorma Operation Director, Dennis Boskovkhy Senior Country Officer, dan Franka Enviromental spesialis World Bank.

Kunjungan itu dilakukan agar pihak World Bank bisa melihat, bahwa Indonesia untuk beberapa komoditas tertentu itu dijadikan prioritas untuk dikembangkan dan rumput laut ini salah satu dari komoditas prioritasnya KKP untuk dikembangkan selain Lobster, Kepiting, Tilapia dan Udang. Sekaligus ingin menunjukkan kepada World Bank bagaimana KKP membuat model rumput laut yang ideal.

“Kunjungan ke Wakatobi ini inisiatifnya dari Pak Menteri Kelautan dan Perikanan. Jadi rumput laut ini adalah tempat dimana dibikin model/tata cara melakukan budidaya rumput laut yang baik dan benar, itu maksudnya sehingga World Bank dibawa ke sini,” ungkap Asisten Khusus Menteri KKP RI Adi Satari di Wangiwangi Selatan (Wangsel), Jumat, (22/3/2024).

Menurut Adi Satari, Wakatobi terpilih karena memang KKP melakukan penelitian, di mana sebenarnya areal di Indonesia yang paling ideal untuk dibangun modeling.

“Nah Wakatobi ini terpilih salah satunya, selain Wakatobi ada di Maluku Tenggara dan beberapa tempat lain yang dianggap paling ideal untuk melakukan modeling. Karena modeling ini kan tujuannya agar komoditas ini bisa menjadi juara di dunia,” ujarnya.

Hadirnya pihak World Bank, kata asisten khusus Menteri KKP, dengan pandangan yang sedikit berbeda, hampir sama dengan pemerintah. Kalau pemerintah ingin meningkatkan produktivitas dari produk-produk unggulan tertentu.

Persentase – Bupati Wakatobi Haliana memaparkan tentang modelling rumput laut kepada rombongan Bank Dunia.

“Kalau Bank Dunia ini sebenarnya sama juga sama pandangannya untuk sustainability/untuk keberlangsungan. Jadi kan ada 17 poin Sustainability Development Goals (SDGs), nah itu dia matanya Bank Dunia,” katanya.

Adi Satari menerangkan, World Bank bukan hanya melihat bahwa bisa dibangun model dengan produktivitas yang tinggi, tetapi apa dampaknya terhadap masyarakat, apa dampaknya terhadap Indonesia, terhadap lingkungan, lingkungan laut apakah memperbaiki dan sebagainya.

“Kalau sampai ke jenis bantuan dan segala macam, tentu mereka memiliki berbagai macam program. Tergantung apa yang sudah mereka lihat di sini kira-kira butuhnya apa. Karena di sini memang lokasi modeling, tidak tertutup kemungkinan ada porsi dari Bank Dunia yang mungkin bisa menjadi kontribusi mereka,” harapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika selama ini kan bank dunia banyak membantu melakukan pembiayaan-pembiayaan untuk project-project tertentu, seperti meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dan sebagainya.

“Itu sesuatu yang memang gak bisa mengharapkan anggarannya hanya datang dari pemerintah, sehingga memang ada bantuan-bantuan seperti itu,” paparnya.

Pria yang diberi tugas khusus oleh Menteri untuk bersama World Bank mengunjungi modeling rumput laut di Wakatobi itu menuturkan, rombongan World Bank ke Wakatobi juga untuk melakukan observasi. karena mereka melakukan penelitiannya seluruh dunia kemudian dibandingkan dengan negara-negara lain.

“Keuntungan Indonesia ini apa, kenapa harus dikembangkan di Indonesia. Karena memang ditemukan bahwa produksi rumput laut Cottonii ini 90 persen produksi dunia itu dari Indonesia. Jadi menurut kami itu cukup masuk akal bahwa Bank Dunia itu ingin lihat kalau di Indonesia gimana ngerjainnya, karena ternyata 90 persen Cottonii itu datangnya dari Indonesia. Sehingga apa yang ingin mereka lakukan harus kompelenting, harus saling melengkapi dengan apa yang bisa dilakukan pemerintah,” pungkasnya. (ADMIN)

Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Masukkan Nama *Wajib