Ketgam : PERESMIAN - Direktur Logistik Direktorat Jendral (PDSPKP) KKP yang diwakili Usep Suhendar bersama Bupati Wakatobi Haliana saat meresmikan dan melakukan uji coba GBP di Desa Mola Utara.

KABARWAKATOBI.COM, WANGI-WANGI-Bantuan Pemerintah Gedung Beku Portabel (GBP) dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI) di Desa Mola Utara, Kecamatan Wangiwangi Selatan (Wangsel) secara resmi diuji coba.

Peresmian dan uji coba itu dihadiri langsung oleh Direktur Logistik Direktorat Jendral Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP diwakili Usep Suhendar bersama Bupati Wakatobi Haliana.

Haliana mengatakan GBP Mola Utara merupakan GBP yang pertama di Kabupaten Wakatobi. Pengelolaannya pun, langsung diserahkan kepada kelompok nelayan serta yang paling moderen.

Haliana juga menuturkan kebahagiannya atas penyelesaian pembangunan GBP Mola Utara yang hampir bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Wakatobi yang ke-20.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo) itu, GBP merupakan hadiah yang luar biasa bagi para nelayan di wilayah kampung Bajo serta menjadi bukti nyata perhatian pemerintah kepada masyarakat di Mola.

“Alhamdulillah, karena ini hampir bertepatan dengan hut Wakatobi ke-20, ini hadiah HUT yang luar biasa untuk teman-teman nelayan. Dan kalau dikatakan yang pertama, kalau mungkin dikatakan yang paling perhatian kepada Bajo raya ini baru Bupati ini,” tuturnya, Minggu, (17/12/2023).

Politisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu menyampaikan, jika dia berkeinginan untuk terus meningkatkan sektor perikanan di Wakatobi dan potensi hasil laut di Wakatobi. Misalnya budidaya rumput laut dan perikanan tangkap, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat khususnya nelayan.

Ditempat yang sama Direktur Logistik Direktorat Jendral (PDSPKP) KKP yang diwakili Usep Suhendar menerangkan, Wakatobi mendapatkan bantuan GBP di detik-detik terakhir dan GBP yang ada di Wakatobi itu sudah moderen dan aktifitasnya sudah dipantau melalui sistem.

“Jadi kalau tidak dimanfaatkan bisa saya tahu dari Jakarta, mulai dari berapa suhunya. Kalau tidak maksimal, saya bisa langsung telepon dan saya juga bisa matikan kalau di sini macam-macam. Jadi tolong manfaatkan dengan baik sarana ini. Karena sarana ini merupakan sarana yang paling baik yang kami bangun. Sehingga bisa dikembangkan masyarakat sini, karena ada cold storage yang canggih dibangun di sini,” terangnya.

Lebih lanjut Usep Suhendar menjelaskan, Kementerian juga ingin hadir dalam setiap komunitas kelautan dan perikanan. Terutama dalam hal distribusi produk perikanan. Mengingat banyak laporan bahwa di beberapa daerah sentra produksi termasuk di Wakatobi, terkadang terjadi kelimpahan ikan yang tidak dapat didistribusikan sehingga akhirnya dibuang ke laut. Sehingga

Maka Kementerian berkomitmen untuk mengatasi masalah tersebut, dengan menyediakan tempat penampungan, seperti GBP, sehingga hasil tangkapan nelayan dapat disimpan dengan baik.

“Cold storage ini masih dalam skala kecil, masih 10 ton, program pemerintah ini hanya stimulan. Kita berharap ada investor-investor yang masuk ke Wakatobi dan membangun Cold storage yang lebih besar lagi. Sehingga kalau ada hasil tangkapan masyarakat nelayan, itu sudah bisa ditampung dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Daya Saing hasil Perikanan Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Kabupaten Wakatobi Hardin mengungkapkan, untuk mendapatkan bantuan pembangunan GBP itu hanya membutuhkan waktu lima bulan. Hal itu dapat dilakukan, kata dia, atas adanya dorongan dan rekomendasi dari Bupati Wakatobi Haliana.

“Total anggaran pembangunannya kurang lebih Rp2 miliar dengan Kapasitas gudang beku 10 ton, sementara Air Blast Freezer (ABF) berkapasitas satu ton,” pungkasnya. (ADM)

Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Masukkan Nama *Wajib