KABARWAKATOBI.COM, WANGI-WANGI-Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) pertegas komitmen dalam memperkuat pendidikan konservasi dan pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD).
Hal itu disampaikan langsung oleh Bupati Wakatobi, Haliana pada Forum Nasional Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan yang diselenggarakan United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Wakatobi, Haliana. Ia menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membangun sumber daya manusia yang berkualitas.
Forum Nasional ESD UNESCO 2026 diharapkan menghasilkan berbagai gagasan, kebijakan, dan kemitraan strategis untuk memperkuat implementasi pendidikan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Haliana mengungkapkan, Wakatobi memiliki posisi strategis karena seluruh wilayahnya berada dalam kawasan Cagar Biosfer UNESCO dan Taman Nasional Wakatobi.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo) itu berkata, kondisi tersebut menjadikan Wakatobi sebagai laboratorium hidup yang mengintegrasikan konservasi alam, budaya, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
“Sejalan dengan visi RPJMD Kabupaten Wakatobi 2025-2029, kami mengintegrasikan penguatan kualitas sumber daya manusia dengan pelestarian nilai sosial, budaya, dan ekologi melalui berbagai program pendidikan,” ungkapnya.
Salah satu langkah nyata yang telah dilakukan, kata Haliana, adalah menjadikan kawasan Cagar Biosfer sebagai ruang belajar untuk membentuk Generasi Biosfer Wakatobi yang cerdas, berkarakter, berbudaya, dan peduli lingkungan.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Wakatobi bersama UNESCO, Balai Taman Nasional Wakatobi, dan sejumlah mitra mengembangkan paket pembelajaran konservasi laut bertajuk Wakatobiku.
Program tersebut menggabungkan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan pengalaman belajar langsung di lapangan.
“Program ini menjadi bukti, jika pendidikan dapat berperan sebagai instrumen utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” tuturnya.
Haliana menjelaskan, masa depan konservasi harus dimulai dari pendidikan. Untuk itu dia mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat adat, sekolah, perguruan tinggi, sektor swasta, hingga organisasi internasional untuk memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
“Jika kita ingin menjaga laut, maka kita harus mendidik generasi yang mencintai laut. Jika kita ingin melestarikan alam, maka kita harus menanamkan nilai konservasi sejak usia dini,” terangnya.
“Dan jika kita ingin mewujudkan pembangunan berkelanjutan, maka pendidikan harus menjadi fondasi utamanya,” tutupnya.

















