KABARWAKATOBI.COM, WANGIWANGI-Tak hanya Pariwisata, kebudayaan dan pemberdayaan ekonomi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), pelestarian lingkungan laut jadi bagian dari rangkaian Wakatobi Wonderful Festival and Expo (Wave) 2026.
Aksi konservasi itu merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten Wakatobi bersama Balai Taman Nasional Wakatobi dan Akademi Kelautan dan Perikanan (AKKP), perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Wakatobi, WWF, Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Komunitas Pelaku Usaha Wisata FURAI Wakatobi yang masuk dalam side event Wakatobi Wave 2026 meliputi transplantasi karang yang diselenggarakan di wilayah pesisir Maritim Center dan pelepasan tukik di pesisir pantai Wambuliga, Desa Sombu, Kecamatan Wangiwangi, Minggu 4 Oktober 2026.
Aksi konservasi itu diharapkan dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup penyu sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut di kawasan Taman Nasional Wakatobi.
Bupati Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) Haliana mengatakan, aksi konservasi menjadi salah satu kegiatan yang melengkapi rangkaian festival yang masuk dalan Kharisma Event Nusantara (KEN) tersebut.
Haliana menerangkan, penguatan pariwisata Wakatobi tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian sumber daya alam yang menjadi daya tarik utama daerah.
Ia mengungkapkan, nilai-nilai menjaga alam tersebut merupakan bagian dari warisan karakter masyarakat Wakatobi yang diwariskan para leluhur.
“Keindahan laut dan kultur maritim merupakan keunggulan komparatif Wakatobi yang perlu dijaga secara berkelanjutan, hingga Wakatobi ditetapkan sebagai salah satu destinasi prioritas pariwisata nasional,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo) itu menuturkan, harmoni antara lingkungan laut dan budaya maritim menjadi warna keseimbangan ekosistem yang diwariskan para leluhur masyarakat Wakatobi.
“Warisan tersebut, tercermin dalam cara pandang masyarakat Wakatobi dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam dengan tetap menjaga kelestariannya,” tuturnya.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Wangiwangi, Balai Taman Nasional Wakatobi La Fasa menyebutkan, untuk transplantasi pihaknya menurunkan 50 media transplantasi dengan jumlah sebanyak 750 bibit fragmen karang.
“Kegiatan transplantasi ini dilaksanakan sebagai upaya pemulihan ekosistem terumbu karang pada perairan pesisir kawasan Taman Nasional Wakatobi juga lokasi ini diharapkan dapat menjadi dive Spot wisata di Pulau Wangiwangi,” harapnya melalui pesan aplikasi WhatsApp.
Menurut La Fasa, kegiatan itu merupakan bagian dari aksi konservasi dalam rangka Festival Wakatobi Wave 2026. Sementara yang dilepasliarkan pada rangkaian Wakatobi Wave 2026 tercatat sebanyak 25 ekor Tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas).
“Sejak 2011 hingga September 2026 telah dilepasliarkan sebanyak 6.839 ekor tukik ke habitat alaminya. Jumlah tersebut terdiri atas 6.340 ekor penyu hijau dan 499 ekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata),” katanya.
Dikatakan La Fasa, Balai Taman Nasional Wakatobi terus memperkuat upaya konservasi penyu melalui kegiatan pelepasliaran tukik hasil Demplot Penetasan Semi Alami Spesies Penyu.
“Pelepasliaran tukik menjadi bagian penting dalam menjaga populasi penyu yang terancam punah. Sebagian kecil tukik yang mampu bertahan hingga dewasa membuat setiap pelepasliaran menjadi kesempatan bagi munculnya generasi baru penyu,” terangnya.
“Tukik yang dilepasliarkan merupakan tukik dalam kondisi sehat, berjenis penyu hijau, berusia sekitar empat bulan, dengan ukuran panjang sekitar 11 sentimeter dan lebar sekitar 10 sentimeter,” sambungnya.
Dalam pelaksanaannya, kata dia, pelepasliaran dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari terik matahari dan ancaman predator. Lokasi pelepasliaran dipilih pada pantai yang bersih dan memiliki akses langsung ke laut.
“Tukik terlebih dahulu ditempatkan dalam wadah agar tidak tersentuh secara langsung dan terhindar dari stres. Selanjutnya, tukik diletakkan sekitar satu hingga dua meter dari garis pantai dengan posisi menghadap ke laut,” paparnya.

Lebih lanjut La Fasa menjelaskan, cara tersebut memberikan kesempatan kepada tukik untuk merekam kondisi fisik pantai atau imprinting sebelum berenang menuju laut.
“Setelah dilepas, tukik dibiarkan bergerak sendiri menuju laut. Peserta kegiatan juga diwajibkan menjaga jarak agar tidak menginjak maupun menghalangi perjalanan tukik. Balai Taman Nasional juga mengucapkan terima kasih atas seluruh dukungan para pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan,” pungkasnya.















